Asalamualaikum wr.wb ^^
안녕하세요…..!!!!!!!!!!!
Menulis sebuah novel merupakan salah
satu dari sejuta impianku. Aku banyak membaca berbagai buku dan mencoba menulis
beberapa cerpen, namun sayangnya tak satupun cerpen berhasil aku selesaikan.
Semua rangkaian cerita itu berakhir di tengah jalan :(
Hari ini saat lagi mencari sesuatu
yang menyenangkan untuk dibaca,aku menemuakn postingan ini di kronologi mbak Karla,salah
satu penulis yang karyanya udah nggak diragukan lagi. Love,Hate and Hocus Pocus
merupakan karyanya yang paling aku suka.
Postingan ini pas banget buat
temen-temen yang bermimpi menjadi penulis ^^
Yuk baca, semoga bermanfaat..:D
#WriteWithMe 01

Mengapa Tulisan Pertama Saya Mandek?
Salah satu pengakuan yang kerap muncul dari para penulis pemula adalah semangat mereka yang mudah hilang saat menyelesaikan naskah pertama. Ide cerita yang semula terang menderang, meredup habis padahal mereka baru menuliskan beberapa bab saja.
Banyak alasan yang diberikan para penulis pemula berkaitan masalah kemandekan tersebut, tetapi umumnya bisa disimpulkan dalam poin-poin berikut:
- Tidak tahu mau dibawa kemana cerita itu.
- Cerita menjadi bertele-tele. Melantur kemana-mana.
- Cerita datar membosankan. Tidak ada greget.
Apa sebenarnya yang terjadi di sini? Kenapa ide cerita yang awalnya menyala liar di kepala, justru memudar dan akhirnya hilang setelah mulai menulis? Ada empat kemungkinan kenapa hal seperti itu kerap terjadi...
PERTAMA, kurang mengenal karakter ciptaan.
Mungkin ada di antara kalian yang berkernyit melihat poin yang satu ini sebagai penyebab tulisan mandek. Memang ada hubungan antara mengenal karakter dengan mandeknya tulisan?! Ya, adan. Bahkan sangat erat.
Perlu diingat bahwa cerita pada dasarnya merupakan gabungan dari dua unsur, yaitukarakter dan konflik. Tanpa keduanya, tidak akan ada cerita yang bisa penulis kisahkan untuk para pembacanya.
Karakter tanpa konflik akan sangat membosankan. Konflik sendiri tidak bisa timbul tanpa adanya karakter. Keduanya saling melengkapi.
Sebagai penulis, kita harus membangun kepribadian karakter ciptaan kita dengan serius, karena dari sanalah konflik muncul. Jika kita tidak mengenal karakter ciptaan kita dengan baik, bagaimana mungkin kita akan tahu reaksi mereka terhadap suatu kejadian yang kita ciptakan dalam cerita nantinya?
Mari lihat contoh.
Katakanlah kita memiliki karakter bernama Carrie. Kita sudah tahu seperti apa tampilan fisiknya, tetapi kita belum mengekplorasi sifat-sifatnya. Lalu kita buat adegan di mana Carrie yang hendak membuka pintu mobilnya yang diparkir dibasement, tiba-tiba ditodong seorang lelaki bersenjata tajam. Saat itu suasana basement sepi, dan tak tampak orang lain di dekat sana.
Nah, saat lelaki asing itu menaruh belatinya yang tajam di leher Carrie, saat itu juga ide kita ikut mandek. Tiba-tiba saja kita tidak tahu harus menulis apa selanjutnya. Kita mencoba memikirkan beberapa kemungkinan, tetapi semua terasa janggal.
Mengapa hal seperti itu terjadi? Karena sebagai penulis, kita tidak mengenal karakter Carrie dengan baik. Seandainya dari awal kita tahu bahwa Carrie itu penakut dan manja, kita akan membuat reaksi gadis itu menangis, atau bahkan pingsan saking takutnya.
Atau seandainya kita tahu bahwa Carrie memiliki gerak refleks yang bagus, kita akan membuat gadis itu otomatis mengayunkan tasnya sekuat mungkin ke arah penodongnya, lalu berlari secepat mungkin ke tempat yang aman.
Bahkan kita bisa membuat Carrie mengeluarkan tendangan maut tepat ke selangkangan si penodongnya hingga lelaki itu jatuh kesakitan. Itu karena dari awal kita sudah tahu bahwa Carrie pemegang sabuk hitam Karate.
Intinya, ada banyak kemungkinan reaksi yang bisa diberikan pada sosok Carrie, yang disesuaikan dengan karakternya. Itu juga sebabnya sangat penting bagi penulis untuk mengenal baik para karakternya sebelum mulai menuliskan kisah mereka.
Lebih jauh tentang seluk-beluk membuat karakter yang hidup, akan dibahas pada artikel#WriteWithMe 03, yaitu: "MERANCANG KARAKTER FIKSI (Bag. 1) - 'Abracadabra! Dan Jadilah Kau...'"
KEDUA, ide awal terlalu umum.
Kadang hasrat untuk menghasilkan sebuah karya fiksi terlalu menggebu-gebu, sehingga calon penulis justru menjadi malasuntuk mengekplorasi ide cerita. Mereka hanya ingin cepat-cepat menuliskannya meskipun ide tersebut masih sangat mentah.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tekhnik ini. Beberapa penulis besar awalnya hanya memiliki "ide samar"tentang apa yang akan mereka tulis, tetapi berhasil menggalinya seiring dengan proses penulisan. Masalahnya, tidak semua penulis bisa melakukan "terjun bebas" seperti itu. Dan itu juga sebabnya banyak penulis pemula yang mandek total setelah menulis beberapa bab.
Dengan kata lain, tekhnik terjun bebas dengan hanya berbekal ide samar mungkin bukan pilihan yang cocok untuk calon penulis tersebut. Pertimbangkan cara lain, yaitu dengan mengeksplorasi lebih dalam ide awal.
Luangkanlah waktu lebih banyak untuk menggodok ide awal. Jangan terburu-buru. Bermain-mainlah dulu dengan ide tersebut. Timang-timang di benak. Biarkan ide tersebut mengendap di sana hingga matang.

Sekarang mari lihat sebuah contoh...
Katakanlah kita mendapat ide “Mau bikin cerita tentang cewek tomboy yang jatuh cinta sama cowok kutu buku.” Saat ide itu datang, ada bola lampu yang berbunyi ‘Ting!’ di benak kita. Lalu saking semangatnya, kita pun langsung lompat ke depan komputer. Namun apa yang terjadi sejam kemudian? Kita hanya berhasil menulis dua kalimat janggal sembari menatap layar komputer dengan masygul.
Untuk menghindari hal seperti ini, bersikaplah santai saat petir ide menyambar otak kalian. Ibarat adonan roti yang sudah diberi ragi, adonan tersebut butuh waktu untuk mengembang sebelum bisa dimasukkan ke dalam oven dan menghasilkan sebongkah roti empuk nan lezat. Begitu juga halnya dengan ide cerita. Beri dia waktu mengembang untuk bisa menjadi sebuah kisah utuh cemerlang.
Sekarang kita tahu kalau si cewek tomboy itu jatuh cinta pada cowok kutu buku, dan kita juga sudah mengenal sangat baik karakter keduanya. Namun kita juga tahu jika kondisi itu belum cukup untuk membuat cerita menarik. Kita perlu sesuatu yang lebih berlapis dan berstruktur dari hanya sekedar cewek tomboy jatuh cinta sama cowok kutu buku. Kita harus menciptakan konflik.
Seperti adonan roti tadi, kita tidak hanya butuh tepung untuk membuatnya. Kita juga butuh ragi, gula, air, telur dan sedikit garam untuk penyeimbang rasa. Bahkan jika ingin roti kita lebih spesial, kita bisa menambahkan coklat, kismis, atau pun keju.
Sebagai penulis, kita pun butuh bahan-bahan tambahan untuk membuat cerita kita nikmat saat dibaca. Caranya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (brainstorm) terhadap ide awal tadi. Pertanyaan yang kita ajukan di sini merupakan berbagai kemungkinan yang bisa timbul dari ide awal tersebut. Misalnya seperti :
- “Gimana kalau cerita si cewek tomboy itu dimulai begini aja?”
- “Gimana kalau di bagian tengah baru ketahuan ternyata si cowok kutu buku itu begitu?”
- “Gimana kalau akhirnya si cewek tomboy dan si cowok kutu buku menjadi begitu?”
Nah, pada saat kita mengajukan pertanyaan begini dan begitu itu, sebenarnya kita sedang melakukan proses plotting...
KETIGA, tidak ada plot cerita.
Sebagai penulis, kita wajib untuk mengerti apa yang dimaksud dengan plot. Seperti para pencari harta karun, plot merupakan peta rahasia yang akan menunjukkan jalan menuju tempat harta karun itu berada. Penulis membutuhkan peta rahasia itu untuk bisa menyelesaikan tulisannya.
Para penulis melakukan plotting dengan berbagai cara mereka. Ada yang menuliskannya secara rinci, ada yang hanya garis besar. Apa pun cara yang dipilih penulis, plot esensial untuk mempermudah proses penulisan.
Semua karya fiksi memiliki plot. Ada yang kuat, ada yang lemah. Ada yang brilian, ada yang absurd. Semua tergantung dari sang penulis. Plot merupakan benang merah cerita. Plot membantu penulis mengerti esensi ceritanya.
Pertanyaannya adalah “Adakah formula baku untuk membuat plot?”
Menulis merupakan seni. Berbeda dengan ilmu eksakta, di mana 1 + 1 akan selalu menjadi 2, maka dalam seni tidak ada aturan yang benar-benar kaku. Semua disesuaikan dengan kebutuhan. Namun tentu saja ada beberapa hal dalam menulis yang tidak bisa dirubah, dan harus mengikuti kaidah yang ada. Misalnya, tata bahasa, ejaan, tanda baca, dll.
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, demikian pula halnya membuat plot. Tidak ada aturan yang mengharuskan plot berbentuk seperti ini itu. Ada penulis yang membuatnya dalam bentuk coret-coretan, ada yang menulisnya dalam kartu-kartu indeks, ada yang menggambarnya, dan ada juga yang hanya di dalam kepalanya saja. Apa pun itu, setiap penulis akan memilih cara yang paling sesuai bagi dirinya.
Lebih jauh tentang plotting, akan dijelaskan dalam artikel #WriteWithMe 02, yaitu: "PETA RAHASIA PENULIS (Bag. 2) - Cara Mudah Plotting."
Kemungkinan KEEMPAT; rasa malas.

Tidak perlu dijelaskan lagi alasan terakhir ini. Kita semua tahu persis makhluk apa malas itu. Seperti yang pernah Shakespeare tulis dalam salah satu karyanya; "A rose by any other name would smell as sweet," maka sama halnya dengan rasa malas itu sendiri. Mau kita beri nama apa pun, jika memang sedang malas, akui saja. Jangan berdalih yang lain. Kita jarang jujur soal malas. Seringnya kita berkilah sedang sibuk, atau tidak ada waktu. Bahkan dengan mudahnya kita memakai istilah writer's block.
Saat seorang penulis telah menghabiskan waktu berhari-hari (bahkan hingga berminggu-minggu) memikirkan kelanjutan jalan ceritanya, tetapi tetap buntu, itu baru yang namanyawriter's block. Yang kerap terjadi pada kita adalah kita bahkan belum menghabiskan waktu sejam memikirkan alur cerita, tetapi sudah langsung menyerah. Dengan kata lain, kita terlalu malas untuk berpikir lebih keras lagi, dan langsung melabeli rasa malas kita itu dengan istilah writer's block.
Nah, bagi kalian yang sedang berusaha menyelesaikan naskah pertama, coba lihat poin mana yang menyebabkan tulisan kalian mandek. Tidak terlalu mengejutkan jika ternyata mayoritas penyebab kemandekan itu sendiri adalah si rasa malas ツ
Semoga bermanfaat.

Note: Tulisan ini untuk berbagi ilmu. Silahkan dibagi/dikutip dengan mencantumkan sumber/nama penulis,
selama untuk tujuan pembelajaran (bukan komersial). Terima kasih.

No comments:
Post a Comment